Indonesia Sudah Bisa Terapkan Program Mobil Hybrid


SERPONG (DP) – Mobil elektrifikasi berbasis teknologi hybrid atau dikenal dengan Hybrid Electric Vehicle (HEV) berpeluang besar dikembangkan sebagai tahap awal program industri mobil elektrifikasi nasional.

“Konsep mobil Hybrida Electric Vehicle (HEV) bisa langsung diimplementasikan karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan. Selain itu konsumsi bahan bakarnya dua kali lebih efisien disbanding mobil konvensional,” kata Ketua Tim Riset ITB, Agus Purwadi, pada acara seminar Studi Pengembangan Electrified Vehicle di Serpong, Kamis (9/8).

Electrified Vehicle Comprehensive Study merupakan kerjasama Kementerian Perindustrian dengan enam perguruan tinggi dengan menggunakan 12 unit kendaraan Toyota, terdiri dari Toyota Corolla dengan mesin konvensional atau internal combustion engine (ICE), Corolla dengan mesin hybrid electronic vehicle (HEV), dan Toyota Prius dengan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Enam perguruan tinggi yang dilibatkan adalah Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Universitas Sebelas Maret Solo, dan Universitas Udayana.

Baca juga:  Toyota Jor-joran Mobil Ramah Lingkungan dan Otonom di GIIAS 2018

Dalam paparan hasil riset awal, Tim Riset ITB menyebutkan, pengujian telah dilakukan selama 44 hari dengan jarak tempuh 2.000 km dengan penggunaan di dalam dan di luar kota Bandung. Hasilnya, konsumsi bahan bakar mobil Toyota Corolla Hybrid memiliki efisiensi dua kali lebih baik dibandingkan Corolla dengan mesin konvensional.

Untuk konsumsi bahan bakar mesin konvensional mencapai 10,2 km per liter, sedangan konsumsi bahan bakar HEV 22,7 km per liter. Hasil riset itu juga menyebutkan, mobil hybrid sama sekali tidak membutuhkan infrastruktur tambahan sehingga bisa langsung diimplementasikan.

Sementara untuk kendaraan Prius PHEV, konsumsi bahan bakarnya jauh lebih irit, atau lima kali lebih efisien, yaitu 56,7 km per liter. Namun, kendaraan ini membutuhkan infrastruktur tambahan karena memerlukan pengisian (charging) selama kurang lebih 0,74 kali per hari, dengan catatan baterei belum diisi penuh.

“Mobil PHEV memang jauh lebih irit dibanding HEV, apalagi ICE. Tapi PHEV membutuhkan infrastruktur tambahan. Kalau mau segera diimplementasikan, maka mobil HEV pilihannya karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan,” ujar Agus.

Baca juga:  Akio Toyoda Terima Penghargaan Issigonis Trophy dari Autocar

Pada PHEV, proses pengisian baterai membutuhkan infrastruktur tambahan berupa stasiun pengisian listrik umum atau privat di level rumah tangga.

Tim Riset ITB mengungkapkan, saat ini hanya 2% rumah tangga di Indonesia yang memiliki daya listrik sebesar 3.500 VA ke atas yang bisa mengakomodasi kebutuhan pengisian baterai tersebut. Sementara itu, 4% rumah tangga lain memiliki daya listrik 2.200 VA.

Meskipun kapasitas daya ini cukup, namun konsekuensinya saat melakukan pengisian baterai, maka semua daya diserap habis. Artinya, kalau sedang melakukan pengisian baterai, daya listrik akan terserap habis sehingga rumah tangga dengan daya listrik 2.200 VA ini tidak bisa memakai perangkat listrik lainnya. [dp/TGH]



WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com